Gelombang Otak Menentukan Bagaimana Kita Membedakan Diri Dari Dunia

0
10

Para ilmuwan telah menunjukkan aktivitas otak spesifik yang terkait dengan rasa kepemilikan tubuh yang mendasar – kemampuan untuk membedakan “Anda” dari segala sesuatu di luar diri Anda. Penelitian yang dipublikasikan oleh tim di Swedia dan Perancis ini mengungkapkan bahwa gelombang otak alfa di korteks parietal adalah kunci dari proses ini. Penemuan ini mungkin membentuk kembali pemahaman kita tentang bagaimana otak membangun realitas, dan berpotensi memberikan informasi mengenai pengobatan untuk kondisi di mana indra ini terdistorsi.

Ilusi Tangan Karet Mengungkap Batasan Otak

Penelitian ini memanfaatkan “ilusi tangan karet” klasik, sebuah tes psikologis di mana peserta ditipu untuk percaya bahwa tangan palsu adalah bagian dari tubuh mereka sendiri. Dengan menyentuh tangan asli yang tersembunyi dan tangan karet yang terlihat secara bersamaan, para peneliti menemukan bahwa otak dengan mudah menggabungkan keduanya ketika masukan sensorik disinkronkan.

Eksperimen tersebut melibatkan 106 peserta yang dipantau melalui electroencephalography (EEG) untuk melacak aktivitas otak selama ilusi. Hasilnya secara konsisten menunjukkan bahwa kecepatan gelombang alfa di korteks parietal – wilayah otak yang bertanggung jawab atas kesadaran spasial dan pemetaan tubuh – berkorelasi langsung dengan seberapa kuat peserta mengidentifikasi tangan palsu.

Gelombang Lebih Cepat, Batas Lebih Tajam

Peserta dengan frekuensi gelombang alfa yang lebih cepat lebih mungkin mendeteksi bahkan sedikit penundaan antara sentuhan pada tangan asli dan palsu, sehingga dengan tepat menolak ilusi tersebut. Sebaliknya, mereka yang memiliki gelombang alfa lebih lambat lebih mudah ditipu, menerima tangan karet itu sebagai miliknya bahkan ketika waktunya tidak tepat.

Untuk memastikan bahwa gelombang ini bukan sekadar produk sampingan dari ilusi, para peneliti kemudian menggunakan stimulasi arus bolak-balik transkranial (tACS) untuk secara artifisial mempercepat atau memperlambat gelombang alfa peserta. Memanipulasi gelombang otak ini secara langsung memengaruhi betapa mudahnya orang tertipu oleh tangan palsu. Gelombang yang lebih cepat meningkatkan rasa kepemilikan tubuh, membuat mereka lebih kritis terhadap perbedaan. Gelombang yang lebih lambat mengaburkan batas antara diri sendiri dan orang lain.

Implikasi Melampaui Persepsi

Penelitian ini memiliki implikasi besar untuk memahami kondisi neurologis seperti skizofrenia, di mana perasaan terhadap diri sendiri sering kali terfragmentasi. Pemetaan tubuh yang terdistorsi mungkin merupakan komponen kunci dari gangguan ini, dan dengan memahami mekanisme saraf yang berperan, pengobatan baru dapat muncul.

Selain penerapan klinis, temuan ini juga memiliki kegunaan praktis. Prostetik yang lebih realistis dan pengalaman realitas virtual yang mendalam dapat dikembangkan dengan memanfaatkan pengetahuan ini. Proses alami otak untuk mengintegrasikan masukan sensorik ke dalam perasaan diri yang koheren kini dipahami dengan lebih tepat.

“Temuan kami membantu menjelaskan bagaimana otak memecahkan tantangan dalam mengintegrasikan sinyal dari tubuh untuk menciptakan kesadaran diri yang koheren,” jelas ahli saraf Henrik Ehrsson.

Pada akhirnya, penelitian ini menggarisbawahi bahwa batasan antara “Anda” dan dunia tidaklah tetap, melainkan dibangun secara aktif oleh otak Anda berdasarkan seberapa cepat otak memproses informasi sensorik.