Pengadilan Maryland Memblokir Kota-kota dari Menuntut Perusahaan Minyak Atas Kerusakan Iklim

0
12

Mahkamah Agung Maryland telah secara efektif menghentikan strategi hukum utama yang digunakan oleh kota-kota dan kabupaten-kabupaten yang berupaya meminta pertanggungjawaban perusahaan minyak atas kerusakan akibat perubahan iklim. Dalam keputusannya pada hari Selasa, pengadilan menolak tuntutan hukum yang diajukan oleh Baltimore, Annapolis, dan Anne Arundel County, sehingga menimbulkan kemunduran yang signifikan terhadap kasus serupa secara nasional.

Inti Sengketa

Tuntutan hukum tersebut menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan minyak dan gas besar dengan sengaja menyesatkan masyarakat tentang bahaya produk mereka dan harus dipaksa membayar biaya adaptasi terhadap dampak perubahan iklim. Taktik hukum ini semakin populer di Amerika, dengan lebih dari tiga lusin kasus serupa diajukan dalam satu dekade terakhir.

Namun, pengadilan Maryland memutuskan bahwa hukum federal mendahului hukum negara bagian ketika menangani polusi udara yang melintasi batas negara bagian. Artinya, pengadilan negara bagian tidak dapat mengatur emisi dengan cara yang bertentangan dengan standar federal. Para hakim juga menuduh kota-kota menggunakan litigasi sebagai metode pintu belakang untuk mengatur emisi gas rumah kaca—kewenangan yang hanya dimiliki oleh otoritas federal.

Mengapa Ini Penting

Keputusan ini merupakan kemenangan besar bagi industri bahan bakar fosil, yang telah lama berjuang melawan tuntutan hukum terkait perubahan iklim. Putusan ini secara efektif meningkatkan batasan hukum untuk kasus-kasus di masa depan, sehingga mempersulit pemerintah daerah untuk mengajukan tuntutan serupa.

“Permohonan kreatif sebanyak apa pun tidak dapat menyamarkan fakta bahwa pemerintah daerah berupaya memanfaatkan undang-undang negara bagian untuk mengatur perilaku global yang konon menyebabkan kerugian global,” tulis Hakim Brynja M. Booth dalam keputusannya.

Alasan pengadilan ini jelas: perubahan iklim adalah masalah global, dan upaya untuk mengaturnya melalui tuntutan hukum di tingkat negara bagian tidak sah secara hukum. Para hakim menekankan bahwa meskipun undang-undang federal tidak menghalangi kasus-kasus tersebut, kasus-kasus tersebut tetap akan gagal berdasarkan undang-undang negara bagian karena cakupan tuntutannya.

Konteks yang Lebih Luas

Keputusan tersebut menyoroti ketegangan mendasar dalam kebijakan iklim: bentrokan antara upaya lokal untuk mengatasi kerusakan lingkungan dan kewenangan pemerintah federal atas masalah antar negara bagian dan internasional. Meskipun konsensus ilmiah mengenai perubahan iklim kuat, kerangka hukum untuk menyalahkan dan bertanggung jawab masih sangat diperdebatkan.

Keputusan ini tidak mengakhiri perdebatan, namun hal ini memberikan sinyal bahwa pengadilan mungkin tidak bersedia menerima tuntutan hukum yang berupaya untuk mengabaikan otoritas federal mengenai peraturan iklim. Perjuangan mengenai akuntabilitas iklim kemungkinan akan terus berlanjut, namun kini dengan adanya pemahaman yang lebih jelas mengenai hambatan hukum yang ada.

Putusan Mahkamah Agung Maryland menegaskan bahwa pengadilan negara bagian tidak mungkin menyediakan jalur cepat untuk litigasi perubahan iklim. Kota-kota yang mengupayakan pemulihan finansial atas kerusakan iklim perlu bekerja melalui jalur federal, atau menghadapi risiko kekalahan hukum serupa.