Saat Menyerah Adalah Jalan Maju Terbaik

0
15

Kisah tentang mesin kecil yang bisa—yang terus-menerus meneriakkan “Saya pikir saya bisa”—sudah tertanam kuat dalam budaya kita. Namun psikologi modern menunjukkan bahwa terkadang, jalan paling efektif menuju kesuksesan bukanlah tentang ketekunan; ini tentang mengetahui kapan harus berhenti.

Bias Budaya Terhadap Ketekunan

Di banyak masyarakat industri, termasuk Amerika Serikat, bertahan dalam suatu tugas, betapapun sulitnya, sangatlah dihargai. Andreea Gavrila, pakar psikologi di Université du Québec à Montréal, menjelaskan bahwa “kita menghargai ketekunan dan kegigihan”, sering kali menimbulkan suatu kesalahan. Pola pikir ini meluas ke kehidupan pribadi kita, khususnya seputar resolusi Tahun Baru: kita cenderung menambah tugas daripada menilai secara kritis apa yang tidak lagi bermanfaat bagi kita.

Ilmu Melepaskan

Para peneliti mulai mengeksplorasi gagasan yang berlawanan dengan intuisi bahwa mengabaikan tujuan dengan sengaja dapat bermanfaat. Rachit Dubey, yang mempelajari motivasi manusia di UCLA, menyarankan bahwa akhir tahun harus menjadi waktu untuk menilai kembali: “Hal apa yang tidak saya perlukan lagi dalam hidup saya?” Terus mengejar tujuan yang tidak praktis, mahal, atau tidak selaras dapat menyebabkan masalah kesehatan fisik dan mental. Namun, berhenti merokok membawa stigma sosial, sehingga hal ini lebih sulit dilakukan dibandingkan sekadar memaksakan diri.

Proses berhenti merokok tidak terjadi secara instan; ini bisa memakan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun—seperti mengakhiri suatu hubungan. Melepaskan pengejaran yang mendalam membutuhkan kerja emosional dan bisa jadi berantakan.

Mengapa Kami Berjuang untuk Berhenti

Tujuan memberikan arah dan tujuan, seperti yang dicatat oleh Nikos Ntoumanis, pakar ilmu motivasi di Universitas Southern Denmark. Namun, tidak semua gol memiliki nilai yang sama. Bias sunk-cost—kecenderungan untuk terus berinvestasi pada sesuatu hanya karena Anda telah berupaya untuk melakukannya—memainkan peran penting dalam alasan orang bertahan pada usaha yang gagal.

Eksperimen mengkonfirmasi hal ini: bahkan dalam skenario berisiko rendah, seperti game online sederhana, orang-orang kesulitan untuk meninggalkan strategi yang tidak efektif. Tim Dubey di UCLA menemukan bahwa para pemain bertahan pada pilihan yang gagal jauh lebih lama dari yang diperlukan secara rasional, hal ini mencerminkan perilaku kehidupan nyata di mana investasi emosional lebih tinggi.

Peran Otak dalam Komitmen

Penelitian bahkan menunjukkan bahwa perilaku ini mungkin tertanam dalam otak kita. Studi terhadap burung, hewan pengerat, dan bahkan manusia yang mengalami kerusakan otak menunjukkan kecenderungan untuk tetap mengerjakan tugas meskipun peralihan tugas akan memberikan hasil yang lebih baik. Kerusakan pada korteks prefrontal—yang bertanggung jawab atas perencanaan masa depan—tampaknya mengurangi keengganan untuk mengubah arah.

Berhenti dengan Niat

Kunci untuk berhenti secara efektif terletak pada mengapa Anda melakukannya. Motivasi memainkan peran penting: tujuan yang ditinggalkan karena ketidakpuasan internal lebih mudah dilepaskan dibandingkan tujuan yang dipaksakan oleh tekanan eksternal. Sebuah studi pada tahun 2022 yang melibatkan lebih dari 900 peserta menunjukkan bahwa orang-orang yang berhenti karena alasan mereka sendiri akan lebih mudah melepaskan diri dibandingkan mereka yang berhenti karena paksaan.

Proses berhenti merokok jarang sekali berjalan mulus. Keraguan, keraguan, dan keterikatan yang berkepanjangan adalah hal biasa. Namun berpegang teguh pada tujuan yang terlalu besar dapat secara aktif membahayakan kesejahteraan Anda. Terkadang, keberanian untuk mengatakan “Saya rasa saya tidak bisa” adalah langkah pertama menuju menemukan jalan baru yang benar-benar penting.

Pada akhirnya, mengetahui kapan harus berhenti bukanlah tentang kegagalan; ini tentang pengalihan strategis dan memberikan ruang untuk tujuan yang lebih bermakna.