Sejarah dan Pembuatan Sutra

0
5

Sutra bukan sekadar benang. Ini adalah bahan konstruksi biologis yang diproduksi oleh serangga tertentu. Mereka menggunakannya untuk membuat kepompong dan jaring. Dalam dunia komersial, istilah ini hampir seluruhnya mengacu pada filamen dari kepompong yang dibuat oleh ulat dari genus ngengat Bombyx. Inilah hewan yang biasa kita sebut ulat sutera.

Struktur materialnya berbeda. Setiap kepompong berisi satu filamen kontinu. Untuk memanennya, produsen melunakkan kepompong dalam air. Mereka menemukan ujung filamen itu. Kemudian mereka melepas filamen dari beberapa kepompong secara bersamaan. Terkadang sedikit putaran diterapkan. Hal ini menciptakan satu untaian terpadu.

Bagaimana sutra diproses

Proses pembuatannya melibatkan langkah yang disebut pelemparan. Di sini, beberapa helai yang sangat tipis dipelintir menjadi satu. Tujuannya adalah untuk menghasilkan benang yang lebih tebal dan kuat. Penguatan mekanis ini membuat produk akhir cukup tahan lama untuk keperluan industri.

Sutra memiliki sejarah yang mendalam. Ditemukan di Tiongkok sekitar sebelum 2700 SM. Rahasia produksinya dijaga ketat selama ribuan tahun. Kerahasiaan ini bukan hanya soal keuntungan. Ini tentang kontrol. Selain batu giok dan rempah-rempah, sutra menjadi komoditas utama yang diperdagangkan di sepanjang Jalur Sutra. Jalur perdagangan berkembang secara signifikan mulai sekitar tahun 100 SM.

Persaingan sintetis dan penggunaan modern

Lanskap pasar bergeser setelah Perang Dunia II. Nilon dan serat sintetis lainnya mulai menggantikan sutra dalam banyak kegunaan. Anda tidak akan menemukan banyak sutra di parasut saat ini. Juga tidak di sebagian besar kaus kaki atau benang gigi. Alternatif sintetik ini menawarkan konsistensi dan biaya yang lebih rendah.

Namun, sutra tetap menjadi bahan mewah yang penting. Ini masih disukai untuk pakaian kelas atas dan perabot rumah tangga. Permintaan tetap ada meskipun tersedia pengganti yang lebih murah.

Tiongkok masih mendominasi produksi. Lebih dari 50% sutra dunia masih diproduksi di sana. Negara ini masih mempertahankan industri kuno ini sementara negara-negara lain beralih ke industri sintetis. Tekstur dan kemilau sutra asli sulit ditiru dengan sempurna. Kesenjangan tersebut membuat pasar tetap hidup.