Desmond Morris, ahli zoologi, penulis, dan penyiar terkenal yang mendefinisikan ulang cara kita memandang hubungan antara biologi dan budaya manusia, meninggal dunia pada usia 98 tahun. Selama enam dekade karirnya yang produktif, Morris bertransisi dengan mulus dari dunia khusus ilmu mamalia ke panggung global media populer, meninggalkan warisan lebih dari 50 buku dan ratusan jam menonton televisi.
Dari Kebun Binatang ke Panggung Global
Perjalanan Morris dimulai di koridor Kebun Binatang London, tempat ia menjabat sebagai kurator mamalia. Awal karirnya ditandai dengan kemampuan langka untuk menjembatani kesenjangan antara sains yang ketat dan hiburan publik. Pada tahun 1956, ia membantu meluncurkan Zoo Time, sebuah program mingguan inovatif yang disiarkan dari sebuah studio yang dibangun di dalam kawasan Kebun Binatang London.
Karir televisinya ditandai dengan pendekatan langsung dan tanpa rasa takut. Dia terkenal pernah menangani seekor anak beruang Rusia yang lengannya terluka saat siaran langsung—sebuah insiden yang hanya membuat dua juta penonton yang menonton di rumah terpesona. Keberhasilan awal ini meletakkan dasar bagi perannya di kemudian hari sebagai komunikator sains terkemuka, sebuah jalur yang ia jalani bersama teman seumur hidupnya dan orang sezamannya, Sir David Attenborough.
Pria yang Membuka Kedok “Kera Telanjang”
Momen penentu dalam karier Morris tiba pada tahun 1967 dengan diterbitkannya The Naked Ape . Buku tersebut merupakan sebuah fenomena, terjual sekitar 18 juta eksemplar dan secara mendasar mengubah pemahaman masyarakat tentang sifat manusia.
Morris berpendapat bahwa manusia pada dasarnya adalah “karnivora sosial”, yang didorong oleh naluri evolusi kuno yang sering kali berbenturan dengan kompleksitas peradaban modern. Dengan memperlakukan perilaku manusia—termasuk keintiman, pacaran, dan struktur sosial—melalui kacamata seorang ahli zoologi, ia menghilangkan sebagian besar pretensi sosial yang ada pada era tersebut.
“Sifat biologis binatang itulah yang membentuk struktur sosial peradaban, bukan sebaliknya.”
Kejujuran buku tersebut mengenai seksualitas manusia menyebabkan buku tersebut dimasukkan ke dalam indeks buku terlarang Gereja Katolik. Namun, bagi Morris, ini adalah suatu tanda kehormatan, menempatkannya di antara raksasa sastra seperti Voltaire dan Zola. Meskipun beberapa teori ilmiah spesifiknya telah diperdebatkan atau diperbarui, kemampuannya menangkap “suasana hati yang sedang demam” pada tahun 1960-an menciptakan cetak biru baru bagi penulisan sains populer.
Seorang Manusia Seni dan Sains Renaisans
Apa yang membedakan Morris dari kebanyakan rekannya adalah penolakannya untuk dibatasi pada satu disiplin ilmu. Dia adalah seorang polimatik sejati:
- Seorang Seniman: Jauh sebelum ketenaran ilmiahnya, Morris adalah seorang pelukis ulung. Dia berpameran bersama master surealis seperti Joan Miró dan memandang seni melalui lensa biologis, sering kali menciptakan “organisme ciptaan” yang mengikuti aturan evolusi alam.
- Seorang Antropolog Sehari-hari: Dia menerapkan pengamatan zoologinya pada hampir setiap aspek kehidupan manusia, mulai dari tribalisme penggemar sepak bola di The Soccer Tribe hingga gerak tubuh rumit dari berbagai budaya.
- Penjelajah Global: Bersama istri dan kolaboratornya, Ramona, Morris melakukan perjalanan ke 76 negara, didorong oleh “dorongan yang tak pernah terpuaskan” untuk mengamati spektrum penuh aktivitas manusia dan hewan.
Lingkaran pergaulannya sangat beragam sesuai dengan minatnya, mulai dari kecemerlangan ilmiah Konrad Lorenz hingga kehebatan sinematik Stanley Kubrick dan Marlon Brando.
Warisan Abadi
Desmond Morris menghabiskan hidupnya mengatasi ketegangan antara “akademis” dan “pemain”. Dia adalah orang yang dapat mendiskusikan kompleksitas stickleback sepuluh duri pada suatu saat dan estetika grafiti Los Angeles pada saat berikutnya. Entah dia sedang mengajari simpanse melukis atau mendokumentasikan evolusi manusia primata, karyanya disatukan oleh satu kekuatan pendorong: keingintahuan yang tiada henti tentang dunia kehidupan.
Dia meninggalkan putranya, Jason.
Kesimpulan: Desmond Morris mengubah studi tentang perilaku manusia dengan mengingatkan dunia bahwa kita, pada intinya, adalah spesies biologis. Karyanya menjembatani kesenjangan antara laboratorium dan ruang tamu, menjadikan kompleksitas evolusi dapat diakses oleh jutaan orang.


























