Lupakan raksasa yang bersembunyi di bawah dasar gurun. Tidak semua predator yang hidup di pasir harus berukuran besar agar bisa berbahaya. Cacing kecil beruas-ruas seperti king ragworm (Alitta virens ) tumbuh subur di pasir basah. Larva antlion menggali lubang corong, mengubur dirinya sendiri untuk menunggu serangga masuk.
Graboids mengikuti logika serupa, tetapi dengan twist. Mereka mengalami metamorfosis menjadi bentuk yang sangat berbeda.
Panggung Nimfa: Penembak Graboid
Telur graboid bisa tertidur di bumi selama bertahun-tahun. Akhirnya, mereka menetas menjadi tahap belum dewasa yang disebut nimfa. Tahap ini dikenal sebagai penembak.
Penembak terlihat seperti versi larva graboid yang lebih kecil. Mereka kompak. Mereka cepat. Mereka bisa meluncurkan diri keluar dari tanah untuk menangkap mangsa.
Penembak berkembang dengan cepat menjadi larva berukuran penuh. Namun itu bukanlah akhir dari evolusi mereka. Bentuk larvanya matang menjadi kelompok yang terdiri dari tiga hingga 12 penjerit bipedal.
Di sinilah biologi menjadi aneh. Tidak ada organisme darat lain yang berkembang dari satu larva menjadi banyak organisme dewasa. Ini adalah transformasi satu-ke-banyak.
Dari Moluska hingga Pemburu Mirip Burung
Morfologi larva graboid tampak seperti moluska invertebrata. Shrieker terlihat seperti burung.
Moluska biasanya tidak mempunyai kaki. Dua spesies gurita tropis berjalan dengan dua kaki. Gurita kelapa (Amphioctopus marginatus ) melingkari enam tentakel di sekeliling tubuhnya. Ia menggunakan dua sisanya untuk berjingkat melintasi dasar laut.
Penjeritnya mengambil tindakan ekstrem ini lebih jauh lagi.
Shrieker jarang melebihi tinggi 3 kaki (91 sentimeter). Mereka mengimbangi ukurannya yang kecil dengan berburu secara berkelompok. Kepala mereka menyerupai graboid bawah tanah. Mereka mempunyai satu lidah yang dapat memegang. Mereka membuka organ penginderaan panas berenda dari kepala mereka untuk mengidentifikasi mangsa.
Reproduksi Aseksual: Muntah Keturunan
Shriekers tidak bisa bertelur. Mereka bereproduksi secara aseksual.
Jika seekor jeritan cukup kenyang, ia akan memuntahkan janin. Janin ini matang dengan cepat. Kemampuan ini menjelaskan bagaimana satu larva graboid menghasilkan lebih dari selusin jeritan. Larva memulai reproduksi aseksual bahkan sebelum ia keluar dari kulitnya. Jumlah keturunan tergantung pada makanan.
Ini terdengar asing. Kedengarannya menjijikkan.
Perhatikan tungau parasit Acarophenax tribolii. Keturunannya mencapai kematangan seksual sebelum lahir. Laki-laki membuahi saudara perempuannya saat mereka masih berada di dalam tubuh induknya yang membengkak. Dia kemudian mati. Para suster berkembang di dalam dirinya sampai dia meledak.
Jeritan itu tidak unik pada ekstremitasnya. Itu lebih terlihat. Dan lapar.
























