Charles Darwin benar.
Kedengarannya seperti pernyataan dari buku sejarah, bukan pembaruan ilmiah terkini. Namun lebih dari 150 tahun setelah para naturalis pertama kali menebaknya, para peneliti akhirnya mengumpulkan buktinya. Dia tidak hanya melihat apa yang ingin dia lihat.
Tanaman yang dimaksud termasuk dalam genus Saxifraga. Selama beberapa dekade, para ahli botani bertanya-tanya apakah tanaman ini memakan serangga. Darwin mengira mereka melakukannya. Sekarang, kita tahu dia juga melakukannya.
Hipotesis Asli
Pada tahun 1875, Darwin menghabiskan waktu bertahun-tahun menguraikan seleksi alam dalam On the Origin of Species. Dia mencari mekanisme yang lebih dari sekedar fotosintesis.
Dia menjadi terpesona oleh dua spesies Saxifraga yang dikenal suka menangkap serangga. Namun eksperimennya gagal membuktikan bahwa mereka benar-benar mencerna mangsanya. Dia bisa menunjukkan bahwa mereka menangkap lalat. Dia tidak bisa menunjukkan bahwa mereka memakannya.
Firasatnya tidak ada selama satu setengah abad.
Metode Modern di Yunnan
Masukkan Doug Soltis di Universitas Florida dan timnya. Mereka tidak mencoba meniru eksperimen Darwin pada tanaman yang sama persis. Hal ini mustahil terjadi tanpa adanya mesin waktu.
Sebaliknya, mereka pergi ke Gunung Wufeng di Provinsi Yunnan, Tiongkok.
Mereka mempelajari tempat lilin Saxifraga.
Ini adalah spesies yang berbeda dari yang diamati oleh Darwin. Ia hidup di daerah pegunungan dan Arktik di belahan bumi utara, ditambah Andes Amerika Selatan. Genus ini memiliki sekitar 450 spesies. Beberapa adalah karnivora. Beberapa tidak.
Tim menemukan S. tempat lilin ditutupi rambut-rambut kecil.
Rambut-rambut ini mengeluarkan zat lengket. Ini menjebak serangga kecil. Tidak semua serangga. Yang besar—penyerbuk—ditinggalkan begitu saja. Tanaman itu pintar. Ia hanya memakan apa yang tidak dibutuhkannya untuk bereproduksi.
Mengonfirmasi Itu Adalah Tanaman Karnivora
Untuk digolongkan sebagai karnivora, tumbuhan harus melakukan tiga hal:
1. Menarik mangsa.
2. Menangkap mangsanya.
3. Mencerna mangsa dan menyerap nutrisi.
Darwin melewatkan bagian pencernaan. Timnya berhasil.
Pertama, para ilmuwan menguji sekresi lengket tersebut. Itu mengandung enzim pencernaan. Enzim ini memecah tubuh serangga.
Kedua, mereka memberi makan tanaman dengan serangga yang diberi isotop nitrogen. Ketika tanaman itu kemudian menganalisis jaringannya, isotopnya ada di sana.
Nutrisi dari serangga yang dicerna ada di dalam tanaman.
“Memiliki kesempatan untuk mengkonfirmasi prediksi Darwin adalah suatu hal yang merendahkan hati sekaligus sangat menggembirakan,” kata Soltis. “Saya kira Darwin akan senang dan mengatakan bahwa saya benar lagi.”
Ketiga, analisis genetik mengungkap sesuatu yang mengejutkan. Saxifraga memiliki gen yang sama dengan tanaman karnivora lain yang dikenal, seperti sundew (Drosera spatulata ) dan semak flycatcher (Roridula gorgonias ). Gen-gen ini mengontrol daya tarik, pencernaan, dan penyerapan.
“Data genom memberikan bukti independen bahwa S.candelabrum adalah tanaman karnivora sejati,” jelas Hang Sun dari Chinese Academy of Sciences.
Mengapa Ini Penting Sekarang
Darwin sedang mempelajari Saxifraga. Dia melihat rambutnya. Dia melihat serangga-serangga itu. Namun dia kekurangan alat untuk membuktikan chemistry tersebut.
Teknologi saat ini mengubah permainan. Penelusuran isotop terbukti berhasil. Pengurutan genom membuktikan hubungan evolusioner.
Soltis memperkirakan hal ini akan memicu gelombang evaluasi ulang. Banyak anggota keluarga Saxifraga memiliki rambut lengket yang sama.
Mungkinkah mereka juga karnivora?
Mungkin.
Soltis mengatakan dia tidak akan terkejut jika lebih banyak spesies dalam keluarga ini ditemukan memakan agas. Garis antara tumbuhan dan predator menjadi sedikit kabur.
Dan Darwin, yang duduk di suatu tempat di angkasa, mungkin hanya mengangguk.

























